Friday, August 3, 2012


Selandia Baru : kesan-kesan di hari pertama.



Dalam hidup ini hal yang menyenangkan buat saya adalah melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain dan bertemu dengan berbagai ragam orang menurut suku dan bahasa mereka, so..ketika saya menginjakkan kaki di Selandia Baru negeri sejauh kurang lebih 6884 km dari pulau Bali dimana saya tinggal : hati saya sangat girang betul J wow negeri yang sebelumnya saya tahu dari tipi, majalah dan dari buku atlas ini akhirnya saya injak-injak juga J sebagaimana yang sudah saya bagikan di tulisan sebelum-sebelumnya bahwa tujuan saya ke negeri ini untuk berkenalan dengan keluarga besar dari calon istri saya J sekaligus menikmati keindahan dari negeri ini juga bertemu dengan orang-orang dari berbagai Negara yang sudah lama tinggal di negeri ini serta orang asli yang menduduki wilayah ini sejak semula yaitu orang Maori. Well..dalam waktu kurang lebih 1 bulan ini saya akan berada di negeri ini dan pasti saya yakin sangat menyenangkan tetapi dimanapun saya berkunjung ke tempat baru pasti selalu ada kesan-kesan awal yang menyentuh saya :


Negeri sedingin puncak gunung Merbabu

Kami mendarat jam 8 malam waktu setempat di Bandara Internasional Auckland, setelah melalui proses imigrasi dan pengecekkan bagasi kami keluar melalui pintu kedatangan dimana teman Tina yang bernama Mark sudah berdiri untuk menjemput kami. Sayapun berkenalan dengan dia dan berbincang-bincang dengan dia soal udara di Selandia Baru, saya  mendengar ketika di pesawat salah satu crew mengatakan bahwa di Selandia Baru sekarang sedang musim dingin dan udara sangat berbeda dengan Bali jadi siapkanlah baju hangat untuk anda, lalu saya mengutarakan hal ini ke Mark dan diapun setuju dengan itu tetapi saya tidak percaya karena pada saat itu udara fun-fun saja malahan hangat J eh ternyata ketika kami keluar dari gedung utama bandara untuk menuju tempat parkir…beuuuuuhhhhhhh dingin sekali! Edaaan betulll! Sayapun berteriak apakah kota ini terletak di puncak gunung! Karena otak saya memunculkan bayangan pengalaman pada saat berada di puncak gunung, saya sebelumnya tinggal di kaki gunung Merbabu di Jawa Tengah dan saya sudah mendaki serta menaklukan semua puncak yang ada di gunung ini berkali-kali dan saya pastikan dinginnya negeri ini sama dengan dinginnya di puncak gunung Merbabu J ternyata saya baru sadar ketika di ruangan bandara mereka menggunakan alat pemanas ruangan atau yang di sebut heater dimana Bali tidak membutuhkan itu J

 Hari pertama kami menginap di rumah Mark yang kurang lebih 20 menit dari bandara Auckland, ketika masuk rumah hal pertama yang di lakukan adalah menghidupkan heater, menambah jaket, memakai kaos kaki yang tebal, lalu menghidupkan alat kecil yang ada di tempat tidur yang fungsinya membuat tempat tidur menjadi hangatJ. Saya berpikir kalau siang hari udara akan lebih hangat eh ternyata tidak juga, keesokan hari dimana sinar matahari sudah menyapa dan teman kami Mark sudah siap menuju kantor untuk bekerja udara pun masih tetap sama dinginnya dengan udara semalam. Sembari menunggu orang tuanya Tina datang untuk menjemput, kami melakukan eksplorasi ke taman kota Auckland yang kebetulan dekat dengan rumah Mark. Semua orang yang kami temui tidak ada yang memakai baju seperti yang biasa kami lihat di Bali semua memakai celana panjang, sepatu dan baju tebal serta tak lupa penutup kepala. Sinar matahari ada tetapi jarang yang banyak adalah awan putih pekat di langit negeri ini oleh karena itu dalam bahasa Maori mereka menyebut negeri ini Aotearoa yang berarti land of the long white cloud dan maka konsekuensi dari hal tersebut adalah dingin sekaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii lol J


Negeri Seribu peternakan

Setelah kami puas menikmati area taman kota Auckland dan menyempatkan naik ke puncak bukit one tree hill untuk menikmati keindahan kota dari atas yang mana kira-kira puncak bukit ini setinggi dengan Auckland City Tower yang berada tidak jauh di sisi barat dari bukit ini, kami melanjutkan perjalanan bersama orang tua Tina menuju Kerikeri dimana mereka selama ini menetap. Kerikeri terletak di North Island kurang lebih 4 jam perjalanan darat  ke utara dari Auckland. Jalanan yang kami lalui untuk menuju Kerikeri sangat besar, permukaan aspal sangat halus dan rata dan tidak macet. Bisa dibayangkan kalau jalanannya sama dengan jalanan di Indonesia pada umumnya maka perjalanan itu tidak bisa ditempuh selama 4 jam J. Hal unik yang kami temui sepanjang perjalanan adalah banyaknya lahan peternakan yang luas yang berderet-deret di sebelah kanan-kiri lintasan jalan yang kami lalui. Indonesia di sebut Negara seribu pulau, Bali di sebut pulau seribu dewa, maka Selandia Baru layak di sebut dengan negera seribu peternakan. Mereka menyulap bukit-bukit yang dulunya penuh dengan semak-semak liar yang tidak berguna lalu menanami kembali dengan rumput hijau yang segar kurang lebih sehijau dan sesegar rumput yang ada di lapangan sepak bola di Liga Inggris J dan menggunakannya sebagai lahan untuk beternak Sapi, domba, kuda dimana hasil semua ini menjadi komoditas utama ekspor dan yang “menghidupi” negeri ini. Sampai-sampai ada guyonan di Selandia Baru lebih gampang ketemu hewan ternak daripada manusia J  



Negeri yang mengutamakan kebersihan dan kerapian


Ketika berada di kota besar seperti Auckland maupun kota-kota kecil di daerah-daerah hal saya lihat tetap sama : semua bersih dan rapi! Setelah melintasi dan memperhatikan jalanan, public area, gedung-gedung yang bersih dan terawat, saya bertanya ke orang tua Tina : “apakah setiap hari mereka menyapu atau membersihkan semua itu?” Mereka menjawab : “tidak, mungkin setiap sebulan sekali mereka membersihkannya dengan dukungan mesin-mesih canggih yang di buat sedemikian rupa untuk memudahkan tenaga-tenaga pekerja untuk merawat kota dan fasilitasnya.” Lalu saya bertanya lagi : “tapi kenapa saya tidak melihat sampah yang bertumpuk ataupun berserakkan dimana-mana?”. “oh kami semua sadar diri kalau buang sampah ya pada tempatnya” timpal mereka.” Dalam hati saya berkata..oh pantas saja bersih dan rapi karena mentalitas sadar diri yang mencintai lingkungan tertanam kuat di setiap mereka.



Kerapian juga terjadi dalam berkendara seperti : kalau antrian di setiap lampu merah ada dua baris maka mobil-mobil yang di belakangnya mengikuti baris yang ada bukan malahan membuat baris baru lagi walaupun ada space untuk baris baru J, tidak semua di setiap persimpangan atau bundaran ada lampu lalu lintas yang mengatur tetapi arus kendaraan bisa berjalan teratur mengapa? Mereka selalu memberi jalan duluan kepada pengendara lain yang berasal dari sisi kanan mereka walaupun di sisi kanan tampak kosong tidak ada mobil bisa dipastikan mereka berhenti sebentar  untuk mengecek ulang apakah ada pengendara dari arah kanan mereka lalu kalau sudah pasti kosong merekapun menarik gas untuk melanjutkan perjalanan. Para pengendara di negeri ini juga sangat mengutamakan para pejalan kaki, mereka akan berhenti dengan sesuka hati dan mempersilahkan bagi kita yang ingin menyeberang.



Sungguh pengalaman yang menyenangkan berada di negeri ini dan tidak ada yang salah kalau kita belajar hal-hal yang baik dari negeri ini J well.. masih ada 27 hari lagi saya ada di negeri ini, sayapun siap dengan pengalaman baru dan dengan senang hati untuk membagikan kepada kita semua J tentunya semua yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, yang disebut kebajikkan dan patut dipuji J.

1 comment:

  1. aku terharu gung km bisa seperti sekarang..
    luar biasa cerita hidupmu.

    ReplyDelete