Friday, March 15, 2013


Menikmati Nyepi di Rumah Saja.


Dikarenakan tahun lalu tidak merasakan Nyepi akibat ada pelatihan di Bandung maka saya memutuskan untuk tidak kemana-mana untuk Nyepi tahun ini alias “ndekem" di rumah saja :). Hari selasa kemarin tepatnya 12 Maret 2013 umat Hindu merayakan salah satu hari besarnya yaitu Nyepi yang merupakan perayaan tahun baru berdasarkan penanggalan Saka yang dimulai sejak tahun 78 Masehi (penanggalan saka sendiri di ambil dari sejarah dimana seorang raja ternama dari India bagian selatan mengalahkan kaum Saka yang menurut sumber mereka adalah termasuk orang-orang Turki, bangsa Arya dan Yunani). Sekarang ini mereka hidup di tahun 1935 Saka. Berbicara tentang perayaan tahun baru kalender Saka sangatlah berbeda dengan perayaan tahun baru kalender Masehi, jikalau perayaan tahun baru Masehi kita orang ada pesta semalam suntuk full kembang api di langit maka lain halnya dengan perayaan tahun baru Saka yang dimulai dengan menyepi (sunyi, senyap) dimana tidak ada aktivitas seperti biasanya. Semua kegiatan di hentikan sementara. Umat Hindu percaya menyepi adalah waktu yang tepat untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk menyucikan alam manusia dan alam semesta.

Banyak rangkaian acara yang dilakukan pada perayaan ini seperti Melasti, yaitu tiga atau dua hari sebelum Nyepi umat Hindu melakukan penyucian dengan cara mengarak segala sarana persembahyangan yang ada di Pura ke pantai, lalu 1 hari sebelum hari-H umat melakukan upacara Buta Yadnya yaitu memberikan semacam sesajian (caru) yang ditujukan kepada Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala supaya mereka tidak mengganggu umat, setelah memberikan sesajian maka prosesi selanjutnya adalah mengobori rumah dan pekarangannya sambil memukul kentongan  yang bertujuan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah dan pekarangan, prosesi ini juga disebut sebagai prosesi pengrupukan. Puncak prosesi pengrupukan ini dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan yang kemudian dibakar dengan tujuan sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar. Dikarenakan saya dan istri malas kena dampak macet akibat kerumunan massa, maka kami memutuskan untuk tidak melihat pawai ogoh-ogoh besar di sepanjang jalan Uluwatu raya Jimbaran dan cukup menikmati pawai 1 ogoh-ogoh yang di buat oleh banjar dimana kami tinggal saat ini yang di arak lewat depan rumah kami.

Keesokan harinya tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya (hari-H). Pada hari ini suasana seperti tidak ada kehidupan. Tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan "Catur Brata" Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi. Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. Hari-H sudah lewat, maka yang menjadi rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Syaka adalah hari Ngembak Geni dimana umat Hindu saling memaafkan satu sama lain untuk memulai lembaran Tahun Baru yang bersih dan damai untuk semua.

Apa yang kami lakukan? Pastinya tidak mengikuti semua prosesi itu, hanya melihat dan berfoto-foto ria. Pada hari- H sebagai bentuk toleransi kamipun tinggal didalam rumah saja mengunci pagar rumah, menutup pintu, mematikan semua lampu, akan tetapi aktivitas dalam rumah tetap jalan seperti biasanya J. Yang menarik buat kami tapi tidak menarik buat umat Hindu yang sungguh-sungguh adalah masih banyaknya orang dewasa dan anak-anak yang berkeliaran di sekitar komplek perumahan dimana kami tinggal, mereka masih melakukan kegiatan seperti hari-hari biasa J seperti menyapu jalan, memandikan burung peliharaan, menyuapin anak-anak mereka sambil jalan-jalan dan yang lucu adalah ketika malam hari saya dan istri mencoba untuk keluar rumah karena iseng saja dan ingin mengecek seberapa gelap keadaan di luar rumah tetapi kami kedapatan oleh tetangga kami yang sedang sembahyan di pura rumahnya, beliau dulunya merupakan pemimpin dari lingkungan kami..sekali lagi lucunya bukannya kami di tegur melainkan di ajak keluar rumah untuk ngobrol ria di jalan sambil menikmati keindahan langit yang penuh dengan taburan bintang baik bintang yang stay cool maupun bintang yang jalan-jalan J. Sebelum kami turun ke jalan kami bertanya pada bapak itu, apakah ini tidak menggangu umat lain? Bagaimana kalau ada pecalang? (bagi masyarakat Bali Pecalang merupakan polisi adat mereka, pecalang bertugas untuk membuat segala sesuatunya tertib untuk setiap upacara dan mereka punya kuasa untuk menindak bagi mereka yang melanggar adat, tentunya siap menindak bagi mereka yang kedapatan yang tetap melakukan aktivitas pada hari Nyepi), lalu bapak itu menjawab ah tidak menjadi masalah kalau kita ngobrol ria di jalan! Alih-alih sambil ronda malam J dan beliau juga bilang jarang ada pecalang masuk di wilayah perumahan kita..yeaaah asyik :) akhirnya saya dan istripun keluar dan nongkrong bersama mereka sampai larut malam.

Sungguh kami menikmati malam tersebut bersama keluarga bapak Nyoman yang merupakan seorang teknisi mesin pesawat dari salah satu perusahaan penerbangan milik negara kita tercinta ini sejak tahun 1998. Kami bercerita tentang pengalaman hidup kita masing-masing, apa yang kita kerjakan, apa yang kita yakini dan percayai sampai rencana kita masing-masing kedepannya dan tentunya sangat menikmati pisang rebus buatan ibu Nyoman serta jus buah impor yang di dapatkan pak Nyoman dari perusahaan penerbangan tempat beliau bekerja :). Oh Nyepi…saya mau menikmatinya lagi :)

 

*) Sumber : Wikipedia.

No comments:

Post a Comment