Thursday, February 28, 2013

Sebuah Realita Kehidupan

Kuta – Bali! Siapa dong yang tidak kenal wilayah ini? Walaupun belum pernah menginjakkan kaki, tapi setidaknya kita pernah mendengar lah J …yoi Kuta-Bali merupakan daerah tujuan wisata yang menjadi daya tarik utama bagi banyak orang yang sempat singgah ke Bali yang juga di sebut pulau seribu dewa ini, baik mereka yang dari negeri seberang nan jauh dimata maupun mereka-mereka yang berasal dari dalam negeri kita tercinta ini. Kuta-Bali, selain menawarkan keelokkan pantai dan berbagai atraksi tradisional kebudayaan Bali, wilayah ini juga didukung oleh berbagai fasilitas-fasilitas yang memanjakkan setiap orang  dimana setiap fasilitas-fasilitas tersebut berteknologi modern dan berstandarkan internasional. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau banyak orang berbondong-bondong untuk menginjakkan kaki di wilayah ini dan ber-having fun-ria bersama keluarga, teman ataupun kenalan baru mereka J.

Well…berdasarkan semua alasan tersebut diatas mungkin kita semua akan cenderung berpikir dan mempercayai bahwa masyarakat yang hidup di wilayah ini akan mengalami kemakmuran tingkat tinggi! Betul sekali, pasti ada banyak orang yang mendapatkan itu tetapi apakah semua orang yang tinggal di kawasan ini mendapatkannya? Hmmmm…tunggu dulu, ternyata ini realitanya..dibalik puluhan hotel dan restoran yang berjejer ria di sepanjang pantai dengan berbagai atraksi wisatanya ternyata masih terdapat keluarga-keluarga miskin yang tidak berdaya, banyak diantara mereka yang tidak memiliki pekerjaan tetap; hidup dan tinggal di lingkungan yang seadanya; banyak di antara mereka dari mulai anak-anak sampai orang tua tidak bisa baca tulis dan juga kejadian sekolah putus di tengah jalan banyak terjadi pada anak-anak mereka. Secuil informasi-informasi tersebut di atas saya dapatkan dan benar-benar melihatnya sendiri ketika saya dan istri berkunjung ke tempat tinggal salah seorang teman kami yang tinggal di wilayah kuta. Teman kami ini merupakan kenalan dari istri saya, mereka bertemu di wilayah pantai Kuta yang pada saat itu si istri J sedang jalan-jalan dan si teman kami ini sedang “bekerja”, karena kebetulan waktu itu istri saya membawa makanan lalu di bagilah makanan tersebut kepada  teman kami itu dan dari peristiwa tersebut keduanya terlibat dalam obrolan yang membuat mereka semakin dekat. Singkat cerita,  teman itu mengajak kami untuk singgah di kediamannya lalu kamipun mengiyakannya dan dari kesempatan ini menjadikan kami tahu sebuah realita yang terjadi di wilayah Daerah Tujuan Wisata di Bali ini, dimana tempat yang sanggup menarik pelancong untuk mengunjungi Bali berulang kali tanpa bosan ini masih “menyimpan” ketidak-adilan sosial bagi masyarakatnya.

Teman kami dan keluarganya serta tetangga-tetangga di sekitarnya memang jauh dari kehidupan yang serba kecukupan, mereka masih memerlukan kebaikan orang lain untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kehidupan mereka terus berorientasi pada bagaimana cara untuk mendapatkan uang setiap harinya untuk menghidupi semua anggota keluarga dan tentunya berpikir untuk masa depan yang lebih baikpun jauh dari angan-angan mereka…bagi mereka mentas dari kondisi yang terjadi pada hidup mereka saat ini adalah hal yang sangat mustahil. What can we do to help them huh? Saya tidak tahuuuuuuuuuuuuu…….saya bukan orang dari pemerintahan…saya bukan orang kaya yang banyak uang… L………… apakah ada ide dari anda untuk melakukan sesuatu untuk mereka? Anyway….apa yang di alami teman saya ini mengingatkan pada kehidupan saya sebelumnya, saya pernah mengalami apa yang pernah mereka alami…..hidup dibawah standar kenyamanan….kluntang-klantung dan tidak tahu untuk apa tujuan dari hidup ini…tapi keberuntungan berpihak pada saya karena adanya pertolongan dari orang-orang yang baik hati di tambah keajaiban karya Tuhan yang akhirnya menjadikan hidup saya ini lebih hidup J…anyway lagi….sayapun punya keyakinan yang sama bahwa keberuntungan yang saya dapatkan itu bisa terjadi pada mereka, dengan terus melakukan sesuatu untuk mereka dan terus berdoa untuk keajaiban Tuhan bekerja pada hidup mereka kami percaya kehidupan mereka bisa berubah ke arah yang lebih baik. Saya dan istri sekarang ini belajar untuk komitmen membantu mereka, tapi kami bukanlah pahlawan yang sanggup untuk mengentaskan mereka dari segala permasalahan yang ada. Kami belajar untuk melakukan sesuatu yang bisa kami lakukan untuk mereka sembari terus membawa mereka dalam doa kami untuk keajaiban Tuhan supaya terjadi pada mereka, sampai dengan saat ini kami berkomitmen untuk datang ke tempat mereka secara rutin untuk belajar bersama dengan mereka akan bagaimana membaca, menulis dan berhitung. sambil terus mengingat bahwa hidup kita ini tidak pernah lepas dari pertolongan orang lain maka kamipun belajar untuk terus untuk menjadi mata rantai yang tidak terputus untuk meneruskan kebaikkan yang kami terima dari orang lain kepada orang-orang lain di sekitar kami…mungkin tindakan kita hanyalah hal-hal kecil nan sepele tapi siapa tahu dari hal kecil tersebut sanggup mendatangkan keajaiban Tuhan bagi mereka yang memerlukannya. Hmmm….Sudahkah hari ini kita berbuat kebaikan pada orang lain?


 

= People helping people =

Monday, February 25, 2013


Tai Kucing!

Teman, apakah anda punya masalah dengan tai kucing? Bentuknya..teksturnya…aromanya…atau keberadaannya? J Baaaahh!..Saya dan istri punya masalah dengan bentuk, tekstur, aroma dan keberadaan tai kuncing L. Belakangan ini kami sering kena “terror” bau tak sedap di pagi hari ketika membuka jendela kamar tidur setelah beranjak dari istirahat sepanjang malam..bau itu sangat tidak enak dan menusuk hidung serta membuat kami terasa pengin muntah J, dan tentunya pastinya jelasnya terror tersebut berasal dari tai kucing ..fiuuuh.. mengapa bisa ada tai kucing dekat kamar kami? Hmmmm…begini ceritanya, di rumah yang kami sewa di daerah Jimbaran Bukit ini punya garasi, lalu di pojokkan garasi tersebut terdapat gundukkan pasir bangunan kepunyaan pemilik rumah yang lumayan banyak dan kira-kira bisa memenuhi 1 bak mobil pick-uplah, so pasti pasir tersebut menjadi bagian dalam masalah ini J karena seperti yang kita ketahui bersama kalau kucing itu memang nyaman berak di pasir, kenapa bisa begitu? Entahlah dan entahlah….anyway kami tidak memelihara kucing, tapi para tetangga tercinta kamilah Tuan si empunya kucing-kucing kampung tersebut, mereka merawatnya dengan memberi makan dan tempat untuk kucing-kucing tersebut beristirahat namun tuan-tuan itu tidak memberikan “jamban” buat  kucing-kucing itu merelease tai-tainya…dan wajarlah gundukkan pasir yang ada di garasi rumah kamilah menjadi tujuan utama mereka untuk buang hajat secara bergantian L. Beruntungnya dari kejadian tersebut adalah letak kamar kami yang tepat bersebelahan dengan garasi dan beruntungnya lagi 2 jendela besar kami menjadi “connecting” nya J..buka jendela..melihat pasir..dan dapatlah bonus aroma “fresh” itu di pagi hari.

Dari beberapa tai yang kami jumpai di gundukan pasir tersebut sepertinya membantu kami untuk bisa mengira-mengira jenis karakter apa yang kucing-kucing itu miliki hahahaha.. sebagai contohnya : kucing sopan; kucing tersebut mengubur tainya sehabis berak, lalu ada kucing teledor yang terus-terusan lupa untuk mengubur tainya, ada juga jenis karakter lainnya yaitu kucing yang suka “show off ” karena dengan sengaja berak di tempat yang mudah di lihat oleh mata kita dan sengaja tidak menguburnya dan juga warna tainya sangat “eye catching” J.

 

Oke kembali ke terror lagi, kami terus mencoba membunuh aroma tersebut (bukan kucingnya J) dengan segera mungkin mengambil tai kucing itu dengan menggunakan skop lalu membuangnya di semak-semak di belakang perumahan, tetapi kebiasaan itu tidak menyelesaikan masalah L karena kucing terus melanjutkan buang hajatnya dan membagikan aroma tainya kepada kami…fiuuuh..sampai pada akhirnya kami mendapatkan cara hasil dari tanya-tanya banyak sumber J, ternyata caranya mudah sekali yaitu dengan terus membuat pasir terasa basah buat si kucing dengan cara menyiram saja itu pasir dengan air secara merata J karena kita tahu kucing tidak suka dengan air, maka hal-hal yang bersinggungan dengan air membuat kucing enggan menyentuhnya..jadi saya selalu memastikan setiap hari gundukan pasir itu harus dalam keadaan basah! Selain membuat kucing tidak senang, juga dengan cara membasahi pasir kita bisa mengurangi debu yang berhamburan karena tiupan angin keras yang akhir-akhir ini menggila ria di wilayah Bali J oh iya kita juga bisa menambahkan cara lain yaitu menaburi kapur barus di sekitar pasir dimana dipercayai bahwa bau dari kapur barus tersebut sangat tidak di sukai si kucing dan membuat mereka tidak mendekat. Syukurlah cara itu sangat jitu dan membuat hidup kami yang bahagia ini menjadi lebih bahagia hahaha. So kalau anda punya masalah yang sama dengan saya, anda tahu apa yang harus anda perbuat J
                                       
 

“ J setiap masalah yang terjadi tidak pernah melebihi kekuatan kita

dan itu semua pasti ada jalan keluarnya J ”

Monday, February 11, 2013


Istriku Pemakan Segalanya.

Ouw Thank’s God sudah memberi seorang istri yang cantik, pintar, sedikit gila J dan bisa makan makanan apa saja yang di hidangkan! Sungguh bule satu ini dalam urusan makan tidak memilah dan memilih jenis makanan, mau masakan lokal atau interlokal, mau di bakar, di goreng atau di rebus pasti di sikat habis olehnya lol. Tentunya kebiasaan ini sangat membantu mengerem pengeluaran untuk hal makan-memakan di keluarga kecil kami yang baru kami mulai J hal ini bisa kami ketahui dari hasil laporan keuangan bulanan yang si Bule buat, contoh di bulan Januari lalu kami menghabiskan uang untuk urusan makan sebesar Rp. 950.000 untuk kami berdua yang artinya dalam sehari kami menghabiskan kurang lebih Rp. 32.000 dan kami makan 3 kali sehari yang juga berarti sekali makan kurang lebih Rp. 11.000 untuk 2 orang J. Karena Si Bule juga bekerja sebagai sukarelawan “health care” yang pasti membuat semua makanan yang kami makan mengandung unsur 4 sehat 5 sempurna..hmmm..kadang-kadang tidak selalu sih J tapi yang pasti sekali makan harus ada sayur, daging dan buah J

Kok bisa ya ngirit begitu? Sebab…J kami belanja sendiri lalu memasak sendiri di rumah itu sudah! Akhir-akhir ini kepercayaan diri saya meningkat tajam, saya mulai tertarik akan masak-memasak dan setiap hari tidak pernah saya lewatkan tanpa memasak hahahaha. Saya di bantu sama Mas Google untuk mencari resep-resep masakan “rumahan” yang sederhana dan sehat lalu saya mencoba memasaknya dan hasilnya cukup memuaskan bagi kami J. Saya dan istri sehat, berat badan bertambah juga tentunya lingkar perut saya tambah membesar, kami bahagia dan bisa terus menambung uang setiap bulan J.  O iya tentang resep menu dari Mas G. baru-baru ini saya berhasil memasak Opor Ayam buat Si Bule dan saya, resep saya pilih yang paling sederhana dan tampak mudah J berikut resepnya, siapa tahu anda ingin mencobanya J dan jangan lupa terus kurangi konsumsi MSG karena MSG tidak baik buat tubuh kita (kata si Bule_red) :

 

Resep Opor Ayam

Bahan Memasak Opor Ayam :
  • 1 ekor Ayam sedang
  • 1 liter Santan encer
  • 1/2 liter Santan kental
  • 1 batang Sere dimemarkan
  • 2 lembar Daun salam
  • 2 lembar Daun jeruk purut
Bumbu yang dihaluskan :
  • 8 buah Bawang merah
  • 4 siung Bawang putih
  • 1 sdt Ketumbar
  • 1/2 sdt Jinten
  • 1/2 jari Lengkuas
  • 5 buah Kemiri
  • Lada, garam dan gula secukupnya
Cara Membuat Opor Ayam :

  1. Ayam dibersihkan, potong-potong menurut selera, cuci dan bersihkan.
  2. Tumis bumbu yang dihaluskan sampai baunya harum, tambahkan daun salam, sere dan beri sedikit vitsin (tapi alangkah baiknya no vitsin. vitsin = MSG).
  3. Ayam masukkan, aduk sampai rata, biarkan sampai layu, tambahkan santan encer.
  4. Setelah agak surut tambahkan santan kental, bila sudah empuk baru diangkat.
  5. Untuk memasak opor sebaiknya dipakai tempat yang bahannya stenlis atau tidak luntur, karena bumbu yang kita pakai ini berwarna putih

Harapan kami : Semoga kebiasaan ini terus berlanjut bagi si bule untuk bertindak “gampang” dalam soal makan-memakan makanan sehat dan murah meriah hahaha dan juga terus mendukung saya untuk tetap bereksperimen dalam masak-memasak untuk keluarga kecil kami yang bahagia ini J. Dari pengalaman “koki dadakan” dan semoga nantinya bisa jadi “koki andalan” J saya belajar untuk terus berani mencoba segala sesuatu yang baru, seringkali perasaan ragu dan takut menghampiri kita ketika kita di perhadapkan dengan situasi yang mungkin baru buat kita..oke itu wajar dalam kehidupan manusia tapi alangkah baiknya untuk kita melawan perasaan itu dengan berani mencoba melakukan hal-hal baru tersebut, ingat dan percaya semua mendatangkan kebaikan ; hal-hal baru muncul pada kehidupan kita untuk menolong kita memaksimalkan semua potensi yang kita miliki. So mari kita terus mengembangkan hidup kita ini! Tetap berani mencoba, kalau gagal coba lagi sampai bisa! Jikalau hari ini memasak dan hasilnya kurang enak atau gosong, besok coba lagi sampai masakkannya  berasa lezat tiada tara hahahaha.

 

“Makna hidup bukanlah meraih kemakmuran melainkan mengembangkan jiwa”

– Alexander Solzhenitsyn -
                                               -          Penulis dan pemenang hadiah nobel    -

 

 

Thursday, January 31, 2013

( Istriku Menulis )



VILLAGE TRIPS

Last November, I went again to a neighbouring island to do medical clinics in the remote villages.   This time we had a team from Australia joining us so technically I (with my 2 other friends) went in a ‘translator’ role rather than running the clinics; but thankfully we are all flexible as we ending up playing both roles. 

HIGHLIGHTS:

1. Part of this team was a dentist and 2 x dental assistants.  Although at first there was MUCH fear of him and very few patients, but the word soon got out that he was a good dentist and gentle…. From then on he was inundated with patients and regularly had people coming to the house to look for him. 

Sadly on the rare occasion locals have travelled to find a dentist, the dentists (according to their stories) seem to be more like butchers and extremely rough…hence the fear.  Many beliefs of ‘if you get a tooth pulled you will go blind’ or ‘after tooth pulling you become sick and vomit for a couple of days’.  Thankfully no such horror was caused by our Australian dentist.

2. Who’s itchy???  2.5 years ago when we first started going into this area ALMOST everyone was itchy ... scabies, fungal infections of the skin or masses of tiny wounds from unknown causes.  2.5years ago on our first visit around 80 people were treated for scabies and this last time in November there was LESS than 20 people treated for scabies J

One of the main leaders in that area shared his story to us.  2.5years ago everyone in his family was itchy.  Since then, each time we‘ve visited we have treated them and given simple education on how to prevent and stop the spread of scabies. Earlier on they would get healed but then after a few weeks or 1 month the scabies would return. BUT each time they would stay healthy a bit longer before the scabies came back. Last November he was PROUD to say that after 6months since our last visit he and his family were STILL ALL HEALTHY!

 
3. Our dear friend who has had the large open wound on his thigh for over 2 years…. HE IS ALMOST 100% HEALED!! There were many religious ceremonies at that time and I first met him in a neighbouring village.  He came up to me with a BEAMING smile and sat beside me.  He then very quickly (so others did not see it – it was previously it was a cause of great shame to him and he’d not been allowed to attend prayer or ceremonies as he was considered ‘unclean’) lifted his traditional sarong to show me his leg. He had only 2 small open areas remaining about 1.5cm in diameter.  It was AMAZING to see the wound so small and even more GREAT to see him walking normally again.
                                     
 
GOD’S  AMAZING  PROVISION  &  BLESSINGS

(…… or Ripleys Believe It or Not) J   A HOUSE plus more

Have you ever wondered? ? 

a-      if there is a time when “the blessings of God actually become a ‘not blessing’?”    

      OR

b-    Been so overwhelmed with the speed that blessings arrive that you almost wish they’d stop?

But then you realize how stupid it would be to pray that, so instead you pray “God can you please slow down a bit?  I need time to catch my breath.

 

Both of these were a first time experience for me last October - Within 3 weeks Agung & I received

* a large amount of furniture and household items

* we were offered a great house, at a great price … in which we are now living!

* a large financial gift to cover a yearly leash on a house

 

Blessing #1 - A LOT of Furniture - A friend of Agungs had to return to the States unexpectedly and decided rather than trying to sells everything within 2 weeks he would give it away and be a blessing to others who needed things.  Agung & I were special in that he wanted us to have a number of things as ‘our early wedding gift’ from him.  Huge blessing for us!  We had very little furniture & not a lot of $$ to go shopping with.  BUT the STRESS comes when there is a time limit and NO WHERE to store anything!!!  At that time Agung was back studying for a short time living in a dorm and I was in my single rented room.  WHAT,WHERE & HOW???  The stress of it all almost became too much …hence it began to feel like a ‘not blessing’; but we managed to divide everything between a number of friends till December…pheww! 

Blessing #2 – the HOUSE-  At this point we decided we really needed a house NOW and not 3-4 months after marriage as originally planned as we had been asked to house-sit for friends till March this year.  But why live for free when you have to find & pay for storage?

The day we collected the furniture, the dining table/chairs were designated to live on my front porch covered in plastic to protect from rain.  That night as we gave thanks for the food a one sentence request was added, “God you know we need a house, please help….we have no idea”.  Agung has a more childlike faith then I, ‘God &/or Bible says, we pray & it will happen’.  I’m a little more cynical/logical so to speak…’things don’t always happen overnight, we’ll need to spend some time praying before the answer comes’.  Haha we are both learning from each other…. and Ouch… I had a gentle reminder again that God doesn’t need us to do more or prayer more before He gives us things, He gives because He loves us and like any good Father delights in blessing His children.

The very next morning I step out of my room the owner of my room is wildly gesturing me to come.  He just heard from his daughter that we needed a house; and there is a house just up the hill next to his son. J  We looked…a nice house, 2 rooms, dining, kitchen, living area, a cool roof area and a GREAT price (16million rupiah per year).…. But we had no money to pay a year up front as required.

Blessing #3 – A lot of rupiah - I’d just paid for my visa etc so was penniless and Agung had 1 million….HMMMMM  house hunting with no money makes you feel kinda foolish, but again I had felt God say ‘how can I give you a house if you’re not looking’.  Then about 1.5weeks later I get a Txt message from an Indonesian lady I know saying this “I have just transferred 25 million rupiah to your account.  I hope you receive it well.”  A large dose of shock and then some rejoicing…and no my first words were NOT ‘thank you Jesus’ J hehehe but my second phrase was  ‘oops sorry God, did I just say that??….and thank you’.

– Regarding the 25million rupiah.  This amazing woman as she obeyed what God spoke to her has enabled us to start our married life DEBT FREE!  The only other way possible for us to get a house was to borrow and then pay back; and this God knows I dislike greatly.  We have now paid cash and are able to save money for next years lease.


 


 
Blessing #4 – small wedding related things.

We choose a small local hotel for the wedding…Hiring cost of venue per person 45,000 ($7nzd) for food.  About 2weeks before the wedding, I was talking to my tailor who was quote 80,000 p/prsn for that same hotel.  The poor lady couldn’t understand how a ‘white person’ got a better price than a local….neither do I, we laughed and I told her it must be a blessing from God to which she agreed.
 All marriages in Indonesia must first have a religious ceremony and then a government/civil wedding to be legal.  The cost of the legal process including a government worker coming to your venue to do the civil ceremony is 1.5 million, this was told to us by several mixed-culture newly-weds and our pastor.  We were charged 750,000 thousand…why?? No idea, but maybe because I speak the language and we both do social work…did they give us the local price?? Not sure J just thankful!

TIME WITH FAMILY  …… and ….. THE WEDDING!

I was truly blessed in having 7 members of my family came over to Bali for our Wedding J Mum & Dad, 2 sisters Sheryl & Julie and 3 nieces Tatyana, Olivia & Grace.  They arrived 10 days early so were able to have some quality time and some extra hands, my own personal hairdresser (Julie) and my flower/decoration designer (Sheryl). Check out the NZ touch on the flowers-I LOVED IT!
 

 

The Wedding Day went well….I felt relaxed and enjoyed it, we had time to eat and chat with people, and most importantly were LEGALLY married J  We had a kids corner, a funky gardening themed cake and the guest book was fingerprinting the border of a canvas print. 
                                     
                                     
 

AFTER THE WEDDING …. I think they call it a ‘honeymoon’ J

I think we definitely took the ‘traditional’ Indonesian version of this and spent with family; but absolutely NO COMPLAINTS as we had invited my family to stay longer if they wished.  Seriously if you are going to pay big money for a ticket you may as well make the most of it.  Half my family went home 2 days after the wedding and the other half stayed till Christmas Day as cheaper to fly then.  We had a great time with my sister and nieces and played chauffeur for them.  Some have laughed at the thought of spending your honeymoon with family, but Agung & I got to see and do things that we would never have done otherwise.  So THANKS HEAPS to Julz and the girls!

Agungs’ father suffered from a stroke 2 days before the wedding which left him paralyzed on his left side.  His parents had just arrived in Bali the day before the stroke and were staying in the north with Agungs sister and family.  Due to this only his Mother and brother in law attended the wedding from Agungs side while his sister stayed with Dad. 

 

Some hospitals here give very little care in cases like this especially at the small remote hospital Dad was in.  It’s actually quite a new hospital, but nothing of the standards we take for granted in New Zealand.  There are no resources for testing, nothing fancy; just beds, simple meals, an x-ray, small pharmacy and an internal medicine specialist that visits once day and no comments on him or his bedside manner. If all you need is an IV stuck in your arm and to take pills 3 x day it’s an ok hospital, but no further care or education/help is given.
 
A couple of days after the wedding we help organize for Mum & Dad to return to Java where Mum would continue to care for Dad at home.  She really had no idea what that would entail, but I take my hat off to her.  Java for her was a better place for her to be as she has friends there and it is home. Also she sells traditional cakes at the market every morning (3am-9am) and her buyers were threatening to buy elsewhere if she didn’t return.  Mum had wanted Agung & I to travel back with them but sadly we could not due to my family still being here.

After my family left at Christmas, we headed by bus to Semarang in Java. That experience in itself is worth a full page of its own J but I won’t.  Let’s just say there are always delays, often VERY long; and it has been said that you ‘take your own live into your hands’ or maybe you ‘put your live into their (the drivers) hands’ when you travel by bus. It can be pretty hair raising at times!

 It’s a 16-24hour ride and we arrived on Monday the 31st.  The plan was just a short trip to see how Dad & Mum were doing and leave on the Thursday afternoon as we were back to work the following Monday.  Strangely we only bought tickets one way and then later even more strangely no return tickets were available till the Saturday afternoon. 

Dad was worse than expected when we arrived (mum had kept the news positive) but he was still doing ok.  We bought him a wheelchair so that ‘quality of life’ could be better and enjoyed more than 24/7 on the floor.  Sadly though he only used it twice as he had high fever Wednesday night and then went downhill fast and passed away on Thursday.  We had the wake & then funeral on Friday and then headed home to Bali on Saturday.  All in all ‘Thanks God J He knows best and His timing is perfect’.  We are thankful that tickets could not be found for Thursday or we would have not been there when Dad passed away.  The wake and funeral process was a delight also.  EVERYONE worked together in harmony, talked freely about God and Dad going to Heaven OR the Will of Allah, we ate together; the Muslim family and friends respectfully observed the Christian worship & protocols and we went together and buried our dead together….all religions standing side by side.

THIS YEAR & THINGS TO COME

Agung continues with his role as soccer coach with the local kids in Jimbaran.  The club is run be my old NGO and with help from Agungs church.   They have training/games 3 x a week and join competition about every 3months.  The heart is not just to teach soccer (which is a MUCH loved sport – it is the RUGBY of Indonesia) but to mentor and encourage the children to have dreams for the future, to prepare the next generation.  Teaching them also Biblical values and morals, to be fair, honest, caring for others, being faithful in what you do ++. 

He will also rejoin and co-lead the monthly trips to Lombok where he works under the NGO ‘World Relief’ and teaches Disaster Risk Reduction in villages.
 
(ME) – learning to juggle the new role of wife.  I’m glad to say I have a great husband who helps around the house heaps, BUT ultimately I have a new responsibility of caring for the house, cooking, shopping, cleaning and just being there to support Agung.  I have restarted one of my teaching groups and will add the others in February when my friend Shirley returns.  All up I’ll have 4 x English groups, 1 x basic education group (reading, writing & math in Indonesian to a family that is unable to go to school.  With 2 of these groups Agung will join me and do story telling (values) and mentoring.  The compromise to make room for the new wife role is only teaching each group 1 x week now instead of the previous 2 x week.

 I am currently running a crash course on Primary Healthcare for an Australian friend Emily who works in a kids home just up the hill.  I’m teaching her 2 x week until the end of January.  It’s really nice to teach healthcare in my own language for a change J and I’m really excited about these classes; firstly she will use this knowledge a lot in the kids home and secondly I see it as multiplication.  As she cares for the kids she is also teaching and showing them new ways.

 In February I will do another ‘healthcare crash course’ but this time for only 1 day.  Emily has a friend who is shortly marrying a Papuan and will be returning to live in his village.  They will be passing through Bali and would like to learn as much as she can in the short time she’s here.  Again another opportunity for multiply and give life-saving skills to someone who will be using them daily.  May she and her husband be a great blessing to his village. The training day will go fast but much time is needed for the preparation and making of resources for her to take with her.
 
:)

Thursday, January 24, 2013



Lari-Lari Babi.

Seringkali kita mendengar tentang jogging atau dalam bahasa saya adalah “lari-lari babi” J merupakan olah raga yang gampang, hemat biaya dan bisa di lakukan dimanapun kapanpun oleh siapapun, betul enggak? Ah anyway asalkan lari-lari babi ini di lakukan dengan cara yang baik dan benar maka dari itu dapat memberikan sesuatu yang baik bagi kesehatan tubuh kita. Berikut ini kesimpulan yang saya dapatkan dari  beberapa pernyataan dan manfaat dari olah raga jogging dari beberapa sumber : Peneliti menemukan bahwa kita tidak perlu mencoba latihan ekstrem nan mahal untuk bisa hidup sehat. Jogging dengan kecepatan lambat atau rata-rata untuk satu atau dua jam bisa meningkatkan harapan hidup pria 6,2 tahun dan wanita 5,6 tahun, serta mengurangi risiko kematian sebesar 44 persen. Para Peneliti juga percaya bahwa lari-lari babi dapat memberikan manfaat kesehatan ganda seperti meningkatkan pengambilan oksigen, menurunkan tekanan darah, mencegah obesitas, meningkatkan fungsi jantung dan meningkatkan fungsi psikologis dan manfaat banyak lagi.

Tidak hanya itu saja, saya juga mendapati beberapa manfaat serupa di atas yang diperoleh dengan rajin jogging yaitu:

1.      Meningkatkan daya kekebalan tubuh, ini sangat penting supaya kita tidak mudah terserang penyakit ringan misalnya seperti flu.

2.      Mengurangi stress, jogging dapat membuat pikiran kita lebih santai dan menjadikan penghilang stress jangka panjang.

3.      Menjaga kesegaran badan dan siap menjalani aktivitas, lari-lari babi membuat paru-paru tubuh terisi oleh udara segar melalui pernapasan, sehingga memberikan kehidupan yang lebih sehat untuk sel-sel darah di dalam tubuh serta menciptakan koordinasi yang baik antara pikiran dan jiwa.

4.      Menjaga berat badan dan memperbesar otot, selain dapat menurunkan berat badan, jogging atau lari-lari babi ini dapat meningkatkan komposisi tubuh dan membantu membangun otot sehingga menjadikan postur tubuh kita tetap ideal.

5.      Menjaga jantung kita tetap sehat, sayangilah jantung kita dengan rutin melakukan lari-lari babi maka kesehatan jantung kita akan tetap terjaga.

Jadi apakah kita percaya akan semua itu? Benarkah hasil penelitian dari para peneliti yang entah siapa mereka itu betul-betul dapat di percaya kebenarannya? Lalu apakah manfaat-manfaat tersebut diatas bisa kita dapatkan ketika kita melakukannya? Ah terseraaaah…boleh kita percaya atau kita menolaknya dan menganggap angin lalu saja J bebaslah hidup kita ini kawan J…tapi …tapi…tapi…dan tapi lagi J tidak ada salahnya juga kalau kita menaruh pikiran positif dalam hidup kita dan mencoba percaya akan hasil penelitian dan manfaat dari lari-lari babi, toh itu semua positif buat kita. Hmmm…saya mau bercerita J awal-awal hidup di Bali saya tinggal di rumah keluarga Amerika kurang lebih 6 bulan lamanya, tentunya saya sedikit banyak tahu akan aktivitas dari keluarga ini dan yang menjadi sorotan saya adalah kebiasaan baik Ibu dari rumah kami yang bernama Ibu Carol Butera, yaitu setiap hari beliau selalu membuat raganya di olah J dengan metode “selang-seling” yaitu hari ini jogging besok berenang lalu keesokan harinya kembali jogging dilanjutkan berenang lagi dan semua itu di lakukannya dengan rutin dan penuh komitmen maka hasilnyapun tampak sekali bahwa beliau selalu tampak sehat dan segar walaupun usianya sudah melewati setengah abad. Saya pikir pasti beliau akan berkenan dan siap kalau di ajak tanding lari marathon dengan kita J info tambahan : saya pernah jogging bareng beliau dari pantai seminyak sampai pantai kuta Bali bolak-balik, hasilnya beliau lari konsisten dan melahap semua trek lalu hasil buat saya adalah lari tidak konsisten, nafas tersedak-sedak dan setengah trek pulang balik dengan jalan kaki loyo akhirnya di overlap lagi sama ibu Carol L.

Dari pengalaman tersebut, karena tahu itu kebiasaan yang baik maka sayapun mengadopsi kebiasaan itu untuk hidup saya…gak rugilah kalau kita adopsi kebiasaan-kebiasaan baik yang kita temui di hidup ini untuk kita, karena yang pasti hasilnya juga akan pasti baik untuk hidup kita…sampai dengan saat ini “Thank God” lari-lari babipun selalu menghiasi hidup saya, semenjak sudah tidak tinggal dengan keluarga Amerika, dari mulai hidup sendiri lalu pacaran dan sampai menikah itu selalu ada…dan semoga ini bisa menjadi olah raga keluarga saya kelak sampai anak cucu karena murah meriah wuhahahaha. Dan juga faktor keberuntungan lain yang menjadikan kebiasaan itu eksis yaitu saya tinggal di Jimbaran dimana lokasinya strategis untuk mendapatkan trek lari-lari babi yang indah menawan hati seperti trek pantai Jimbaran ( dari hotel four season sampai landasan bandara Ngurah Rai ), trek pantai Kuta, trek pantai Nusa Dua, trek Tanjung Benoa, trek perbukitan di Garuda Wisnu Kencana dan trek persegi panjang lapangan sepak bola. Semoga dan semoga saya tetap terus konsisten akan kebiasaan ini…J 

trek GWK
 
Nusa Dua
 
Water blow Nusa Dua

Landasan Ngurah Rai

 
Lalu apa hasilnya buat saya setelah melakukan lari-lari babi? Sepertinya belum tampak hasilnya bagi perut saya hahahahahahahahah karena perut saya masih besar gendut menawan, tapi setidaknya untuk flu sudah sangat jarang sekali ada di hidup saya dan hasil lainnya membuat tubuh dan pikiran jadi segar…tapi kadang-kadang lari-lari babi malah membuat saya jadi capek dan akibatnya membuat malas beraktivitas lalu memilih tidur seharian wukakakakak…..( tapi mari berpikir lagi untuk melakukannya dengan cara yang baik dan benar untuk hasil yang maksimal J ). Dan yang pasti manfaat besar yang langsung saya dapatkan adalah “good quality time” bersama istri saya <3 <3 <3. So baiklah…dari pembacaan seputar jogging dan pengalaman yang saya jumpai: saya belajar untuk marilah kita membudayakan kebiasaan-kebiasaan yang menurut kita itu baik adanya dalam hidup ini, tetaplah konsisten akan hal itu dan mari kita percayai sesuatu yang baik sudah menunggu di depan kita. Salam lari-lari babi.

Akibat salah strategi jogging