Monday, August 20, 2012


Selandia Baru : Belajar tentang bagaimana mengurus peternakan.




Sungguh hati saya sangat girang berada kurang lebih 6 hari di rumah keluarga Cullen di Mangautoroto (kota kecil 3 jam dari Kerikeri) yang tak lain adalah keluarga dari kakak perempuannya Tina, tidak hanya “penerimaan” hangat yang terus di berikan oleh the Cullens tetapi mereka juga tidak pelit untuk berbagi apa saja yang mereka kerjakan di peternakan dan memberi kesempatan saya turun langsung ke lapangan untuk menciumi hewan ternak mereka JJ. The Cullens memiliki lahan peternakan yang sangat luas sekali, kurang lebih 125 hektar..pokoknya bisa di buat puluhan lapangan sepakbola J Rumah mereka juga ada di kawasan lahan peternakan tetapi jauh dari kandang-kandang hewan yang ada. Hewan-hewan yang menghuni peternakan mereka adalah: domba, kambing, sapi, ayam, dan babi, tetapi fokus utama keluarga ini dalam menjalankan peternakan adalah sapi perah. Mereka memiliki 230-an sapi dewasa dan 30-an anak sapi yang setiap hari terus bertambah.
 Saya sungguh heran plus takjub kalau peternakan segede ini di tambah ratusan ternak yang ada hanya di urus oleh satu keluarga yang terdiri dari 1 ayah (Wesley), 1 Ibu (Sheryl) dan 4 anak (Nasah 8 th, Liana 6 th, Jireh 4 th dan wonderful baby Grace 1 th). Wesley menjadi aktor utama dalam peternakan ini, beliaulah yang running semua program dan mendelegasikan tugas ke istri dan anak-anaknya sesuai dengan kemampuan mereka. Wes dan Sheryl memang sengaja melibatkan anak-anaknya untuk membantu mereka dalam menjalankan peternakan ini yang tak lain bertujuan untuk mengajarkan mereka bahwa “butuh” mengerjakan sesuatu untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup dan tentunya memperlengkapi mereka dengan skill  beternak yang biasa dilakukan keluarga-keluarga yang ada di Selandia Baru yang menjalankan usaha peternakan. Setiap hari setelah membantu orang tuanya, Nasah dan Liana mendapat “upah” sebesar $2 yang terus mereka kumpulkan untuk membeli sesuatu atau menggunakannya untuk sesuatu yang mereka butuhkan, lalu apa yang di lakukan Jireh dan Grace? Kedua balita ini membantu orang tua mereka dengan tidak rewel selama berada di peternakan J. Bagi saya mereka adalah gambaran keluarga yang metal JJ. So inilah pekerjaan yang mereka lakukan sehari-hari di peternakan dimana saya belajar untuk melibatkan diri J:

  

Memberi makan!

Ternak juga manusia! Eh maksudnya ternak seperti manusia. Sama seperti kita yang butuh makan, hewan ternakpun juga butuh makan J. Babi yang jumlahnya hanya 5 ekor mereka kasih makan 2 kali sehari dengah sisa-sisa makanan dari rumah tangga plus sisa sayur mentah dan kulit buah-buahan, domba dan kambing kira-kira jumlahnya 10 ekor di biarkan lepas di lahan dekat rumah yang memiliki rumput segar, ayam di beri makan juga dengan sisa-sisa makanan dari rumah tangga plus kacang-kacangan, tentunya dari semuanya yang paling menyita waktu dan tenaga adalah memberi makan sapi, baik sapi dewasa maupun sapi yang baru nongol.


Sapi yang baru lahir langsung di pisahkan dari induknya dan artinya keluarga Cullenlah yang harus menyuapi junior-junior itu dengan susu 2 kali sehari. Mereka mengelompokkan sapi-sapi junior ini ke dalam 2 kandang yang berbeda, kandang pertama untuk sapi berumur 1-2 hari dimana keluarga Cullen harus benar-benar sabar menyusui anak sapi satu ke anak sapi yang lainnya menggunakan botol seperti botol dot untuk bayi yang berukuran besar dan kandang kedua adalah untuk sapi berumur 3 hari lebih dimana sapi-sapi ini lebih mandiri dan keluarga Cullen hanya menggunakan “alat” menyusui (tit cups)  yang berbentuk kurang lebih seperti bak penampungan air dan dilengkapi selang-selang pendek yang berbentuk menyerupai puting susu induk sapi yang akan mengeluarkan susu dalam bak jika anak sapi menyedotnya J dan tugas inilah  yang menjadi tugas utama Nasah dan Liana.

Sapi dewasa makan rumput segar setiap harinya dan ini menjadi tugas sang direktur untuk mengurusnya. Lahan sebesar 125 hektar ini di bagi menjadi puluhan paddock oleh Wes dengan tujuan untuk rotasi dalam memberi makan ternak karena rumput juga butuh waktu untuk bertumbuh, artinya rumput dalam satu paddock sudah berangsur pendek maka ternak di giring ke paddock yang lain dan begitu seterusnya dan biasanya 3 minggu sekali kembali ke paddock awal, rumput terus bertumbuh dan ternakpun tidak kelaparan. Ini tugas berat menurut saya, karena Wes harus membuat batas paddock dengan pagar kawat berpuluh-puluh meter dengan menuruni bukit dan menyeberang parit serta mengatur “lalu-lintas” dengan membuka-tutup kawat-kawat paddock untuk membuat jalan sapi-sapi dari paddock satu ke paddock lainnya..sungguh itu sangat melelahkan.



Sensus jiwa J

Sensus jiwa juga terjadi dalam peternakan ini. Setiap hari Wes menulis laporan tentang jumlah hewan ternaknya tentang berapa yang mati, berapa yang keluar untuk di jual atau di hibahkan dan berapa bayi-bayi yang lahir. Uniknya adalah setiap sapi punya anting besar dan bernomor di setiap telinga mereka dan dari anting itu kita bisa tahu riwayat hidupnya seperti kapan dia lahir, bapak dan ibunya sapi ini siapa JJ..cerdas!




Menyedot paksa susu J

Fokus peternakan ini adalah sapi perah maka hasil susulah tujuan utamanya. Setiap hari sekali dan biasanya sore hari jam 15.30 Mr. Wes Cullen menggiring sapi-sapi dewasa menuju tempat pemerahan, karena jumlahnya ratusan sapi maka memerah susu tidak dilakukan secara manual menggunakan tangan kita J melainkan menggunakan mesin pemerah susu. Sapi-sapi di buat baris rapi di dalam kurungan lalu mesin “penghisap” yang memiliki kurang lebih 20 lempeng dengan 4 mulut setiap lempengnya di pasang “paksa” J ke dalam puting susu sapi untuk menyedot air susu dari sapi dan di tampung ke dalam tangki besar yang nantinya akan di jual ke pabrik pengolahan susu sapi. Pekerjaan ini sangat menyenangkan dan sayapun menikmatinya, seru sekali..karena saya mendapat pengalaman seperti bagaimana rasanya di tendang sapi, di kencingi berliter-liter juga merasakan sentuhan hangat dari fresh tahi yang keluar dari pantat sapi, sayapun sempat kelilipan tahi sapi waktu itu J

Susu yang dihasilkan harus terjaga kualitasnya maka dari itu hanya sapi yang sehatlah yang di perah setiap harinya. Sebelum di perah Wes selalu mengecek kesehatan Udder atau kantong susu beserta 4 putting susu si sapi. Penyakit yang biasa ditemukan adalah mastitis atau infeksi yang disebabkan oleh bakteri dengan tanda-tanda kantong susu atau salah satu puting keras dan panas lalu susu yang di hasilkan di sertai lender atau nanah. Sapi yang terkena mastitis di pinggirkan dan di beri perawatan khusus dengan menyuntikkan madu ke puting susu untuk penyembuhan, setelah sapi tesebut benar-benar sembuh maka konsekuensinya adalah “berikan susumu lagi pada kami hahahaha..”



Tumpas habis tahi dan segala kotoran dari ternak.

Kebersihan harus selalu di jaga karena bersih adalah pangkal kesehatan juga bersih itu sebagian dari iman J yang namanya ternak mereka seenak udelnya berak kencing dimana saja kapanpun mereka mauJJ so tugas kitalah yang punya hikmat ini untuk membersihkannya, biasanya segala kotoran yang harus di bersihkan adalah di tempat pemerahan baik pelatarannya maupun alat-alat yang di gunakan. Cara membersihkannya kita memakai selang besar dengan kucuan air yang deras dan sanggup meluluhlantahkan segala kotoran yang ada J. Juga untuk kandang sapi harus di jaga kebersihannya, dalam membersihkan kotoran mereka menggunakan traktor untuk mendorong tahi dan kawan-kawannya ke kolam penampungan. Oh iya setiap peternakan harus memiliki setidaknya 2 kolam yang berfungsi menampung segala limbah kotoran ternak dan mengendapkannya setidaknya berminggu-minggu sebelum di alirkan ke sungai, ini semua adalah peraturan pemerintah dimana mereka tidak mau sungai-sungai di sekitar peternakan terkontaminasi limbah peternakan yang nantinya mencemari lingkungan hidup semua mahkluk yang hidup di sungai maupun di muara dan di laut J.



Begitulah sekiranya gambaran-gambaran kegiatan sehari-hari di peternakan sapi keluarga Cullen, adapun juga kegiatan lainnya yang juga menjadi bagian penting dalam sebuah peternakan tetapi tidak dilakukan setiap hari adalah seperti;

Mengawinkan sapi.

Semua penghasil susu adalah betina dan semua sapi dewasa di peternakan ini adalah betina, tidak ada sama sekali sapi jantannya…lho bagaimana mereka bisa punya anak? Inilah tugas tambahan bagi Wes untuk membuat sapi-sapi betina bunting J maksudnya adalah dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini hanya dengan memaksukkan sperma sapi jantan yang bisa di beli di toko-toko peternakan dengan menggunakan jarum khusus  ke dalam saluran rahim sapi betina maka bisa membantu memunculkan bayi-bayi sapi baru. Perlu di catat dalam melakukan “kawin” ini, kita perlu memperhatikan masa-masa “genit” sapi betina atau “on heat” J biasanya terjadi hanya 1 hari setiap 3 minggu sekali dan di tandai dengan perilaku aneh dari sapi betina seperti mata mereka berkedip-kedip dan juga saling menunggangi satu dengan yang lainnya J. Jikalau kawin suntik itu gagal maka Wes akan membeli sapi jantan dan memberikan kesempatan untuk “holiday” di peternakan setelah itu di jual kembali.



Menjual anak-anak sapi jantan.

Anak-anak sapi jantan tidak di harapkan di peternakan ini, mereka hanya menguras habis makanan yang ada dan tidak menghasilkan apa-apa jadi daripada di pelihara mending di jual saja. Biasanya setelah berumur kurang lebih 4 hari anak-anak sapi jantan akan di jual ke pabrik “pemotongan ternak” dengan harga perekor hanya $20, saya sengaja tidak menanyakan lebih lanjut tentang apa yang bisa di hasilkan dari anak-anak sapi ini karena yang saya tahu mereka akan menemui ajalnya segera dengan cara di penggal…sungguh sedih melihat nasib sapi-sapi lucu itu, memang betul life is so short.



Menyiram rumput.

Rumput yang tumbuh di lahan peternakan harus di jaga, untuk itu Wes merawatnya dengan menyiram dan menambahkan nutrisi khusus untuk rumput supaya tumbuh subur dan sehat.



Memotong rumput dan memfermentasikannya.

Kegiatan ini di lakukan pada musim “spring” dimana rumput tumbuh dengan cepat, tujuan memotong rumput dan memfermentasikannya dengan cara mengikat rumput lalu di bentuk kotak di akhiri dengan di bungkus plastik selama 2 bulan ini adalah untuk memberi makan ternak pada musim “summer” dimana cuaca kering tidak ada hujan dan membuat rumput kering dan mati. Begitulah mereka mensiasatinya supaya ternak-ternak terjamin makanannya dan terus bisa menghasilkan sesuatu untuk menghidupi kebutuhan keluarga Cullen.


Itulah pengalaman saya berada di peternakan the Cullens dan lagi-lagi semua ini adalah anugerah-Nya dimana saya bisa belajar tentang bagaimana cara beternak yang mana saya menaruh minat terhadapnya juga belajar tentang komitmen dan kerja keras yang di sertai rasa sukacita yang di lakukan the Cullens dalam menjalankan peternakan ini. Thank u so much Dear…



..camkanlah bahwa Sang pencipta kita akan memberikan kepada kita akan pengertian dalam segala sesuatu..








Monday, August 13, 2012


Selandia Baru : Eksplorasi ke utara Pulau Utara.



  
Selandia Baru terdiri dari 2 pulau besar yaitu Pulau Utara (North Island) dan Pulau Selatan (South Island) serta satu pulau kecil yaitu  Pulau Steward (Steward Island), Kerikeri kota dimana saya tinggal saat ini berada di North Island. Hari senin 6 Agustus lalu mumpung matahari bersinar terang (hal ini jarang sekali mengingat sekarang lagi musim winter J di Selandia Baru), kami menyempatkan diri untuk bereksplorasi menuju arah utara dari wilayah North Island. Waktu yang harus di tempuh kurang lebih 3 jam perjalanan dari kota Kerikeri Untuk menjelajah wilayah utara sampai dengan batas paling ujung pulau ini, dan lagi-lagi bukan jadi pemandangan yang aneh kalau rentetan panjang lahan hijau peternakan kami lihat di kiri kanan sepanjang jalan yang kami lewati. Lalu apa saja yang kami lakukan dalam eksplorasi ini? Cekidot J :


Mandi sinar matahari di Cape Reinga.

Cape Reinga merupakan spot paling ujung dari North Island dan tentunya juga menjadi wilayah paling utara dari negara Selandia Baru, wilayah ini terletak pada garis lintang selatan 34° 25’7 dan bujur timur 172° 40.6’. Di wilayah batas paling utara ini di didirikan menara mercusuar. Menara yang hanya setinggi 10 meter tetapi berdiri di atas bukit yang keseluruhan tingginya mencapai 165 meter DPL dan lampu mercusuar menyala setiap 12 detik serta terlihat dari jarak pandang 35 kilometer ini memiliki peranan penting untuk memberi tanda bagi kapal yang akan memasuki wilayah Selandia Baru melalui laut Tasman dan laut pasifik utara. Menara ini di bangun pada tahun 1941 untuk menggantikan menara mercusuar yang ada sebelumnya tetapi sudah tua yang di bangun pada tahun 1879 di Matuopao pulau kecil di sebelah barat laut Cape Reinga. Sejak tahun 1987 menara mercusuar ini bekerja secara otomatis dengan suplai dari pembangkit listrik tenaga surya dibawah pengawasan Angkatan Laut Selandia Baru.



Cape Reinga menjadi daya tarik utama bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara, ketika kami berkunjung di tempat ini kami bertemu dengan rombongan pelajar dari Inggris, turis dari Spanyol, Perancis, India dan China. Bagi penduduk asli Selandia Baru atau yang kita kenal sebagai orang Maori, mereka menyebut tempat ini Te Rerenga Wairua yang artinya kurang lebih sebagai pintu gerbang bagi roh orang yang mati untuk memasuki kehidupan selanjutnya di tanah asal nenek moyang mereka (Hawaiki). Udara di Cape Reinga sangat dingin sekali walaupun berada di pinggir laut lepas, tidak heran semua orang yang berkunjung selalu memakai jaket tebal, topi, sepatu untuk menghangatkan tubuh mereka termasuk saya tentunya J. Pada saat itu matahari bersinar terang, kamipun menyempatkan merebahkan diri di salah satu spot untuk mandi sinar matahari dan pastinya tetap dengan pakaian lengkap dan tebal yang kami pakai, tidak seperti berwisata di Indonesia : mandi sinar matahari artinya pakai baju seminim mungkin….hmmm saya rindu udara Bali J.

                                


Jalan-jalan di “padang pasir” Te Paki.

Tidak jauh dari Cape Reinga kira-kira 45 menit perjalanan menuju barat daya di sana ada spot menarik bagi wisatawan namanya Te Paki, di sana ada bukit yang besar dan sangat luas tetapi gundul tidak ada tanaman sama sekali hanya hamparan pasir saja. Lalu apa yang menarik dari tempat ini? Saya pikir-pikir tidak ada yang menarik hahahaha. Saya tidak tau persisnya kenapa bisa ada bukit gundul luas dan berpasir yang di kelilingi bukit-bukit hijau yang penuh dengan berbagai macam tumbuhan ini, tetapi menurut orang lokal disana yang berdasarkan dongeng nenek moyang mengatakan bukit itu merupakan korban letusan gunung di bawah laut ribuan tahun yang lalu dimana pada saat itu angin berhembus membawa material pasir dari laut ke arah bukit ini..sekali lagi saya tidak tahu kebenarannya, silahkan anda mencari info yang bisa di andalkan kebenarannyaJ tentang sand dune di Te Paki Selandia Baru dari berbagai sumber.  

Aktivitas utama yang menarik para wisatawan adalah sand boarding atau di kenal sebagi meluncur dari atas bukit pasir dengan menggunakkan papan seluncur yang di rancang khusus untuk meluncur di atas pasir, tetapi sayangnya pada saat kami berkunjung tempat untuk penyewaan papan luncur sedang tutup L tetapi kami tetap puas dengan menjelajah wilayah ini yang seakan-akan membawa kami pada imaginasi berada di padang gurun sahara J. Pada saat akan menuruni salah satu bukit, saya tertantang untuk menuruni bukit dengan ketinggian kurang lebih 30 meter dan kecuraman 70° ini dengan berlari sekencang-kencangnya, hasilnya sayapun jatuh tergulung-gulung dengan mulut penuh pasir….itu menyenangkan dan itu tidak sakit J.



Menikmati pesona aktivitas burung laut di Rangiputa, Karikari peninsula.

Dalam perjalanan pulang kami menyempatkan diri untuk mampir ke karikari peninsula untuk menikmati matahari tenggelam dan melihat aktivitas burung laut yang sedang mencari makan di pinggir pantai. Spot pantai seperti ini banyak di temukan di Bali dan saya pikir pantai di Bali lebih bagus J mungkin yang membedakan adalah hanyalah keberadaan burung-burung laut yang besar dan yang tidak terlalu takut dengan kehadiran manusia di sekitarnya ini, sayapun sangat menikmati aktifitas mereka langsung dan dari jarak dekat. Ketika matahari perlahan-lahan tidak menampakkan sinarnya lagi dan udara menjadi semakin dingin sedingin kulkas, kamipun beranjak untuk pulang ke rumah dengan perasaan yang gembira J.

Ucapan syukur saya haturkan kepada Tuhan, karena buat saya pengalaman ini adalah sebuah berkat dari-Nya. Terimakasih Tuhan.




Wednesday, August 8, 2012


Selandia Baru : apa saja yang sudah terjadi dalam “meeting the parents” sejauh ini.



Aneh tapi lucu itulah perasaan yang tergambar dalam diri saya ketika Air New Zealand yang saya tumpangi akan mendarat di bandara internasional Auckland, perasaan seperti apa itu? Perasaan yang mengatakan biarlah pesawat ini berlama-lama di udara atau delay di angkasa saja dari pada segera mendarat di tanah Selandia Baru dan yang akhirnya mempertemukan saya dengan orang tua dia hahahahaha. Sungguh saya ada perasaan takut dan ada rasa gugup akan meeting the parents kurang lebih 28 hari lamanya, jujur saja saya lebih excited untuk menikmati penerbangan  rute panjang  dan menginjakkan kaki di negeri orang untuk pertama kalinya dari pada bertemu dengan orang tua sang kekasih hati J tetapi semua itu harus di hadapi, dengan terus menyemangati dan menghibur diri bahwa everything’s gonna be alright serta merenungkan kembali akan good statement yang berbunyi “ apa yang kita takuti sesungguhnya itu hal yang berharga buat hidup kita” sederhananya adalah saya takut ketemu dengan orang tuanya tetapi sebenarnya kesempatan ini berharga buat saya untuk membangun hubungan dengan orang baru, belajar tentang kebudayaan sekaligus belajar untuk bisa menjadi suatu berkat buat mereka…so semangat untuk bertemupun muncul. Berikut beberapa"kejadian-kejadian" dalam meeting the parents J :



Makan bersama.

Makan bersama sambil mengobrol tentang “hidup” menjadi hal yang wajib bagi keluarga ini, kamipun sering menghabiskan waktu bersama untuk makan pagi, siang dan malam. Yang saya ingat pada kesempatan pertama untuk berada bersama di satu meja makan saya kikuk begitupun juga dengan mereka, saya tidak tahu harus memulai percakapan dari mana dan itupun terjadi pada mereka….sepi! tapi day by day dengan di bantu tina sebagai mediator dengan memunculkan tanya jawab tentang segala sesuatu yang terjadi dan di punya dalam hidup ini, maka meja makanpun tidak sepi lagi dan ada obrolan yang membuat relax suasana.



Tea time.

Untuk urusan tea atau coffee time mereka tidak punya standart baku akan waktu J asal ngumpul bareng dan kapanpun itu selalu ada teh atau kopi. Keluarga ini merupakan keturunan pendatang dari Inggris dan dalam budaya mereka suka sekali ngumpul dan ngomongin apa saja dari hal penting sampai hal-hal bodoh. Dalam waktu ini biasanya saya gunakan untuk ngobrol tentang hobi, kebetulan hobi bapaknya adalah peternakan, tanaman, geografi dan sayapun ada minat dalam hal itu maka obrolan kami tidak jauh dari tetek bengek hal tersebut sambil menikmati keindahan danau kecil yang berada di depan ruang keluarga.



Membuat acara ultah salah satu cucu mereka di rumah dan di hadiri keluarga besar.

Kebetulan salah satu cucu mereka ulang tahun dan dasarnya mereka suka ngumpul, maka dibuatlah acara perayaan ultah di rumah orang tua Tina dan mau tidak mau saya pun ikut membantu mempersiapkannya walaupun hanya menemani belanja hahaahhaha. Acara berjalan menyenangkan dan menjadi kesempatan bagi saya bertemu dengan keluarga besar serta melibatkan diri dalam permainan kelompok dalam acara tersebut seperti lempar bola dalam keranjang dimana setiap keranjang ada nilainya sendiri-sendiri, memindahkan kacang polong dari mangkok satu ke mangkok lainnya dengan memakai sedotan sesuai waktu yang di tentukan dan menempel ekor pada sebuah gambar keledai tanpa ekor dengan mata tertutup..yaah kami semua senang.

 tracking bareng.

Meskipun sudah menginjak usia manula mereka tetap aktif untuk berolah raga, salah satu yang sudah kami lakukan adalah tracking di kerikeri river track yaitu menyusuri jalan kurang lebih sepanjang 8,6 km  di pinggiran sungai yang mempunyai 2 air terjun dan hutan yang lebat serta dingin yang tidak jauh dari kota kami tinggal.



Ibadah bersama.

Keluarga ini adalah keluarga yang religius. Mereka percaya akan Tuhan dan menghidupi apa yang menjadi titah-titah-Nya maka dalam hidup mereka ibadah menjadi prioritas utama. Dalam kesempatan ibadah bersama ini sayapun di beri waktu untuk bercerita tentang kisah hidup dan apa yang sudah Dia perbuat dalam hidup saya dan hal-hal apa yang saya sedang kerjakan dan yang akan saya kerjakan nantinya. Sungguh pengalaman yang berharga buat saya dimana saya mendapatkan berkat sekaligus juga membagikan berkat.



Mengunjungi kerabat baik yang ada di dalam kota maupun di luar kota.

Selalu ada saja jadwal berkunjung ke kerabat J kami sudah mengunjungi keluarga yang tinggalnya sejauh 3 jam perjalanan dan minggu depan ada jadwal untuk berkunjung ke kerabat yang tinggal di kawasan selatan dari north island, meskipun seringkali saya tidak mengerti apa yang mereka omongkan tetapi saya tetap berusaha untuk menikmati waktu kunjungan dan terus “menganalisa” J.

Gila bersama dalam permainan X-box Kinect.

Setelah menikmati makan malam dan kami tidak letih maka yang kami kerjakan adalah bermain X-box Kinect! Itu lho maen game yang mirip-mirip video game atau PS tapi alat kendali permainan bukan memakai joy stick melainkan pakai tubuh kita, saya tidak tahu persis bagaimana itu bisa bekerja tapi yang pasti ada alat sensor dimana kita harus berdiri di depannya sesuai jarak yang ditentukan yang muncul di layar TV. Game-game yang kami mainkan adalah seperti rafting, boxing, skateboarding dan juga holahop..semua gila dan semua tertawa!



Itulah beberapa momen-momen yang sudah saya lalui, pastinya I have good time bersama mereka dan memang benar hal-hal berhargalah yang saya dapatkan. Untuk kedepannya walaupun masih ada rasa takut, saya siap untuk menghadapinya dan percaya ada hal-hal yang baik dan berharga sudah menanti hidup saya…so apa yang menjadi ketakutan anda? Hadapilah semua itu.

Selandia Baru : makanan dan cara bersihin pantatnya aneh buat saya J



Nama saya Agung Susilo dan sudah bisa di tebak kalau saya ini adalah orang jawa. Dalam budaya Jawa secara khususnya, sejak kecil sampai setua sekarang yang namanya makan itu selalu ada nasi, apapun bentuk dan macam lauknya yang pasti nasi harus ada! Sampai muncul istilah kalau kita belum melahap nasi itu namanya belum makan J Juga dalam urusan membersihkan pantat sehabis berak selalu di bersihkan sama air, tidak peduli kamu berak dimana juga bersama siapa J bersihkanlah pantatmu itu pakai air. Hmmmmm….tetapi budaya yang mengajarkan 2 kebiasaan itu tidak saya temukan di kehidupan orang Selandia Baru, Mereka  makan nasi tapi bisa di hitung paling sebulan cuman satu kali dan kalau bersihin pantat sehabis berak selalu memakai tissue. Apakah semua itu menggangu saya? Ouh jelas sekali! Saya sangat terganggu dan menyatakan dengan sadar bahwa kebiasaan mereka adalah kebiasaan yang aneh buat saya J. Tetapi sekali lagi jikalau mengingat perjalanan dari hidup saya, hidup saya ini penuh warna dari kasih karunia dan anugerah-Nya maka tidak heran sayapun selalu melihat pintu yang selalu terbuka dimana saya bisa melepaskan diri dari “hal-hal aneh” yang saya temui dalam hidup ini J so…bagaimana cara kasih karunia dan anugerah itu bekerja dalam hidup saya ketika sampai dengan saat ini berada di Selandia Baru? Hahahahahahaha….

Makanan-makanan aneh.

Saya sempat bertanya kepada kiwi (sebutan untuk orang Selandia Baru) mengapa mereka tidak menjadikan nasi atau beras sebagai makanan pokok mereka dan jawabannyapun sangat sederhana karena padi tidak bisa tumbuh di sini, kalau padi bisa tumbuh di tanah kami maka kami akan makan nasi seperti kalian J. Kentang, gandum dan ubi yang mereka biasa sebut kumara menjadi makanan utama orang kiwi dan tentunya di tambah olahan-olahan hasil peternakan yang mereka miliki. Sampai pada saat ini makanan-makanan aneh yang saya sudah cicipi adalah seperti : Weiner Schnitzhel (daging sapi yang di iris tipis lalu di balut tepung plus telur dan bumbu aneh lalu di goreng dengan sedikit minyak), Mince (daging di tumbuk halus lalu di campur dengan kacang-kacangan lalu di masak seperti bubur), Mashed Potato (kentang di rebus lalu di tumbuk tidak lupa ditaburi bumbu dan di tambah susu di akhiri masuk oven) , Kumara (ubi manis di potong kecil memanjang lalu di goreng garing), Meat Pies (roti di isi olahan daging lalu di oven), Mashed Carrot & Parsnip (wortel dan lobak di rebus lalu di tumbuk dan masuk oven), Bean Salad (salad kacang-kacangan wueeek), Coleslaw (Salad hijau penuh dengan potongan kubis), Homemade Soup (yang pasti bentuknya tidak seperti sup Indonesia mereka buat dari buah waluh,kentang dll asal lembek dan cair mereka sebut sup), Toast (roti bakar isi macam-macam sesuai selera), Cheese (keju), Chicken (ayam yang di rebus lalu dibumbui yang pasti rasanya datar-datar saja tidak sekuat bumbu di Indonesia), Steak, Boiled Vegetables (sayur yang cuman di rebus saja dan tidak dibumbui). Lalu apakah saya menikmati semua makanan tersebut? Hmmmm….tidak terlalu menikmatinya akan tetapi supaya perut tetap terisi maka sayapun harus mencicipinya J



Sebenarnya makanan-makanan tersebut sudah biasa saya dengar di Bali tapi masalahnya adalah saya tidak menyukainya, karena sebelumnya pernah mencoba makanan-makanan sejenis di atas dan bagi saya rasanya aneh jadi sayapun memilih untuk kembali ke selera asal nenek moyang yaitu nasi dan lauk pauk asli Indonesia hahahhaha. Sudah hampir satu minggu di Selandia Baru sayapun rindu betul masakan Indonesia dan sudah mencari info adakah rumah makan atau resto yang menjual makanan Indonesia yang dekat dengan daerah dimana saya tinggal tetapi jawabannya nihil J oke then..kasih karunia dan anugerah bekerja lagi ….melalui orang tuanya tina coz they think of me, mereka mengajak saya ke pusat perbelanjaan untuk membeli beras impor dari Thailand dan juga membeli produk-produk Indofood dan wingsfood yaitu mie instan hahhahaha…J dan yang pasti harganya lebih mahal ketimbang harga yang biasa kita dapatkan di Indonesia, namun tidak setiap hari  saya makan nasi mie instan plus telur tapi setidaknya selalu ada nasi yang mengiringi makanan-makanan aneh harian kiwi lol….so I can survive by the grace of Lord through nasi hahahaha…ndeso!



Bersihin pantat.

Bicara soal closet duduk dan tissue sebagai pembersih sehabis berak bukanlah hal janggal di negeri kita Indonesia tetapi itu semua tidak berlaku di rumah saya dan kebiasaan saya! Saya biasa berak di WC atau closet atau kakus jongkok dan cebok pake air untuk membersihkan sisa-sisa kotoran yang menempel J and sorry to tell you about the truth..saya lebih nyaman berak jongkok sekalipun harus berada di closet duduk, kalau mau kapan-kapan kalian bisa cek J karena bagi saya dorongan pegas untuk mendorong tai keluar lebih kuat jika di bandingkan kalau kita duduk J. Saya bisa maklumi karena kebiasaan jongkok di closet duduk membuat baut dudukan closet lebih cepat aus dan akibatnya closet “goyang-goyang” tidak nyaman…maka tidak heran muncul stiker yang berbunyi “ INI CLOSET DUDUK BUKAN JONGKOK” hahhahahhahahhhahahahahahhahahahahhahahahahahha.

Untuk urusan cebok pake tissue, saya sudah pernah mencoba tapi hasilnya sangat tidak nyaman..masih terasa ada yang lengket-lengket geli di patat hihihihihi dan untuk mensiasatinya saya selalu berak di pagi hari sebelum mandi, jadi habis berak langsung mandi dan bersihin pantat J dan so far siasat itu semua berjalan mulus J.

 Tapi Anyway by the way..saya sudah mencoba untuk tidak saklek-saklek amat kok untuk tetap kuat memegang tradisi yang saya miliki, saya membuka diri untuk setiap hal baru dan perubahan selama itu baik buat saya. Saya pikir pengalaman-pengalaman di atas baik untuk saya serta tidak ada salahnya untuk mencoba menjadikannya bagian dari tradisi saya yang baru tanpa meninggalkan yang lama…toh dari hal-hal tersebut saya bisa menyimpulkan bahwa sesungguhnya banyak cara yang bisa di lakukan untuk memenuhi keinginan ataupun kebutuhan hidup ini dan again…saya pikir melalui kasih karunia dan anugerah-Nya, hikmat di berikan kepada semua orang di belahan bumi ini untuk mereka bisa punya cara untuk memenuhi kebutuhan hidup dan bertahan di dunia ini. Silly story isn’t it? Ya itulah hidup saya, melalui hal-hal yang mungkin tampak bodoh dan hal kecil saya bisa mengecap kasih karunia dan anugerah-Nya bekerja J well…saya sudah mencoba untuk duduk di closet duduk, bukankah itu sedap didengar bukan? J piss.


















Friday, August 3, 2012


Selandia Baru : kesan-kesan di hari pertama.



Dalam hidup ini hal yang menyenangkan buat saya adalah melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain dan bertemu dengan berbagai ragam orang menurut suku dan bahasa mereka, so..ketika saya menginjakkan kaki di Selandia Baru negeri sejauh kurang lebih 6884 km dari pulau Bali dimana saya tinggal : hati saya sangat girang betul J wow negeri yang sebelumnya saya tahu dari tipi, majalah dan dari buku atlas ini akhirnya saya injak-injak juga J sebagaimana yang sudah saya bagikan di tulisan sebelum-sebelumnya bahwa tujuan saya ke negeri ini untuk berkenalan dengan keluarga besar dari calon istri saya J sekaligus menikmati keindahan dari negeri ini juga bertemu dengan orang-orang dari berbagai Negara yang sudah lama tinggal di negeri ini serta orang asli yang menduduki wilayah ini sejak semula yaitu orang Maori. Well..dalam waktu kurang lebih 1 bulan ini saya akan berada di negeri ini dan pasti saya yakin sangat menyenangkan tetapi dimanapun saya berkunjung ke tempat baru pasti selalu ada kesan-kesan awal yang menyentuh saya :


Negeri sedingin puncak gunung Merbabu

Kami mendarat jam 8 malam waktu setempat di Bandara Internasional Auckland, setelah melalui proses imigrasi dan pengecekkan bagasi kami keluar melalui pintu kedatangan dimana teman Tina yang bernama Mark sudah berdiri untuk menjemput kami. Sayapun berkenalan dengan dia dan berbincang-bincang dengan dia soal udara di Selandia Baru, saya  mendengar ketika di pesawat salah satu crew mengatakan bahwa di Selandia Baru sekarang sedang musim dingin dan udara sangat berbeda dengan Bali jadi siapkanlah baju hangat untuk anda, lalu saya mengutarakan hal ini ke Mark dan diapun setuju dengan itu tetapi saya tidak percaya karena pada saat itu udara fun-fun saja malahan hangat J eh ternyata ketika kami keluar dari gedung utama bandara untuk menuju tempat parkir…beuuuuuhhhhhhh dingin sekali! Edaaan betulll! Sayapun berteriak apakah kota ini terletak di puncak gunung! Karena otak saya memunculkan bayangan pengalaman pada saat berada di puncak gunung, saya sebelumnya tinggal di kaki gunung Merbabu di Jawa Tengah dan saya sudah mendaki serta menaklukan semua puncak yang ada di gunung ini berkali-kali dan saya pastikan dinginnya negeri ini sama dengan dinginnya di puncak gunung Merbabu J ternyata saya baru sadar ketika di ruangan bandara mereka menggunakan alat pemanas ruangan atau yang di sebut heater dimana Bali tidak membutuhkan itu J

 Hari pertama kami menginap di rumah Mark yang kurang lebih 20 menit dari bandara Auckland, ketika masuk rumah hal pertama yang di lakukan adalah menghidupkan heater, menambah jaket, memakai kaos kaki yang tebal, lalu menghidupkan alat kecil yang ada di tempat tidur yang fungsinya membuat tempat tidur menjadi hangatJ. Saya berpikir kalau siang hari udara akan lebih hangat eh ternyata tidak juga, keesokan hari dimana sinar matahari sudah menyapa dan teman kami Mark sudah siap menuju kantor untuk bekerja udara pun masih tetap sama dinginnya dengan udara semalam. Sembari menunggu orang tuanya Tina datang untuk menjemput, kami melakukan eksplorasi ke taman kota Auckland yang kebetulan dekat dengan rumah Mark. Semua orang yang kami temui tidak ada yang memakai baju seperti yang biasa kami lihat di Bali semua memakai celana panjang, sepatu dan baju tebal serta tak lupa penutup kepala. Sinar matahari ada tetapi jarang yang banyak adalah awan putih pekat di langit negeri ini oleh karena itu dalam bahasa Maori mereka menyebut negeri ini Aotearoa yang berarti land of the long white cloud dan maka konsekuensi dari hal tersebut adalah dingin sekaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii lol J


Negeri Seribu peternakan

Setelah kami puas menikmati area taman kota Auckland dan menyempatkan naik ke puncak bukit one tree hill untuk menikmati keindahan kota dari atas yang mana kira-kira puncak bukit ini setinggi dengan Auckland City Tower yang berada tidak jauh di sisi barat dari bukit ini, kami melanjutkan perjalanan bersama orang tua Tina menuju Kerikeri dimana mereka selama ini menetap. Kerikeri terletak di North Island kurang lebih 4 jam perjalanan darat  ke utara dari Auckland. Jalanan yang kami lalui untuk menuju Kerikeri sangat besar, permukaan aspal sangat halus dan rata dan tidak macet. Bisa dibayangkan kalau jalanannya sama dengan jalanan di Indonesia pada umumnya maka perjalanan itu tidak bisa ditempuh selama 4 jam J. Hal unik yang kami temui sepanjang perjalanan adalah banyaknya lahan peternakan yang luas yang berderet-deret di sebelah kanan-kiri lintasan jalan yang kami lalui. Indonesia di sebut Negara seribu pulau, Bali di sebut pulau seribu dewa, maka Selandia Baru layak di sebut dengan negera seribu peternakan. Mereka menyulap bukit-bukit yang dulunya penuh dengan semak-semak liar yang tidak berguna lalu menanami kembali dengan rumput hijau yang segar kurang lebih sehijau dan sesegar rumput yang ada di lapangan sepak bola di Liga Inggris J dan menggunakannya sebagai lahan untuk beternak Sapi, domba, kuda dimana hasil semua ini menjadi komoditas utama ekspor dan yang “menghidupi” negeri ini. Sampai-sampai ada guyonan di Selandia Baru lebih gampang ketemu hewan ternak daripada manusia J  



Negeri yang mengutamakan kebersihan dan kerapian


Ketika berada di kota besar seperti Auckland maupun kota-kota kecil di daerah-daerah hal saya lihat tetap sama : semua bersih dan rapi! Setelah melintasi dan memperhatikan jalanan, public area, gedung-gedung yang bersih dan terawat, saya bertanya ke orang tua Tina : “apakah setiap hari mereka menyapu atau membersihkan semua itu?” Mereka menjawab : “tidak, mungkin setiap sebulan sekali mereka membersihkannya dengan dukungan mesin-mesih canggih yang di buat sedemikian rupa untuk memudahkan tenaga-tenaga pekerja untuk merawat kota dan fasilitasnya.” Lalu saya bertanya lagi : “tapi kenapa saya tidak melihat sampah yang bertumpuk ataupun berserakkan dimana-mana?”. “oh kami semua sadar diri kalau buang sampah ya pada tempatnya” timpal mereka.” Dalam hati saya berkata..oh pantas saja bersih dan rapi karena mentalitas sadar diri yang mencintai lingkungan tertanam kuat di setiap mereka.



Kerapian juga terjadi dalam berkendara seperti : kalau antrian di setiap lampu merah ada dua baris maka mobil-mobil yang di belakangnya mengikuti baris yang ada bukan malahan membuat baris baru lagi walaupun ada space untuk baris baru J, tidak semua di setiap persimpangan atau bundaran ada lampu lalu lintas yang mengatur tetapi arus kendaraan bisa berjalan teratur mengapa? Mereka selalu memberi jalan duluan kepada pengendara lain yang berasal dari sisi kanan mereka walaupun di sisi kanan tampak kosong tidak ada mobil bisa dipastikan mereka berhenti sebentar  untuk mengecek ulang apakah ada pengendara dari arah kanan mereka lalu kalau sudah pasti kosong merekapun menarik gas untuk melanjutkan perjalanan. Para pengendara di negeri ini juga sangat mengutamakan para pejalan kaki, mereka akan berhenti dengan sesuka hati dan mempersilahkan bagi kita yang ingin menyeberang.



Sungguh pengalaman yang menyenangkan berada di negeri ini dan tidak ada yang salah kalau kita belajar hal-hal yang baik dari negeri ini J well.. masih ada 27 hari lagi saya ada di negeri ini, sayapun siap dengan pengalaman baru dan dengan senang hati untuk membagikan kepada kita semua J tentunya semua yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, yang disebut kebajikkan dan patut dipuji J.

Wednesday, August 1, 2012


Selandia Baru : selamat datang penerbangan internasional yang pertama.




Menetas sudah “telur” penerbangan internasionalku yang pertama J hari ini 01 Agustus 2012 pukul 8 malam saya mendarat dengan sempurna di bandara internasional Auckland Selandia Baru setelah duduk santai dalam kabin Air New Zealand yang membawa saya dari Bandara Internasional Ngurah Rai Bali jam 8 pagi tadi. Sungguh saya senang sekali dengan pengalaman ini karena untuk “ukuran” orang seperti saya perjalanan ini merupakan kesempatan yang langka sekali bahkan bisa dibilang kesempatan yang tidak mungkin terealisasi, tetapi karena ada faktor yang saya sebut “mujizat” ini semua bisa terjadi..so makanya saya senang dan berharap lagi telur penerbangan internasional yang lain juga segera menetas J.

kartu masuk pesawat :)

lolos imigrasi!

Anyway dengan pengalaman ini saya juga teringat dengan statement yang di keluarkan oleh  teman lama saya yang saya kenal di kota Salatiga yang berhubungan dengan penerbangan juga yaitu “ ketika keran penerbangan pertama terbuka maka keran tersebut akan mengalirkan penerbangan-penerbangan berikutnya”. Mengapa teman saya mengeluarkan statement tersebut? Karena pada saat itu tepatnya sampai dengan tahun 2010 saya belum pernah yang namanya mencicipi bagaimana rasanya naik pesawat terbang J dan miris juga pada saat yang sama saya bekerja di biro perjalanan bagian penjualan ticket pesawat dimana saya sudah issued tiket pesawat puluhan kali J J lalu teman saya menyarankan supaya beli tiket pesawat entah kemana yang penting naik dulu dan merasakan naik pesawat itu seperti apa dan percayalah nanti akan ada kesempatan untuk naik pesawat di lain waktu. Sayapun menerima statement itu dengan hati yang terbuka J akhirnya saya membeli sendiri tiket pesawat pertama saya tanggal 21 Agustus 2010 untuk rute Semarang-Jakarta padahal tujuan yang sebenarnya adalah ke kota Bogor yang harusnya bisa di tempuh langsung menggunakan bus dari kota Salatiga dan itu jauh lebih murah serta direct way, akan tetapi karena demi membuka keran penerbangan pertama ya masa bodohlah J Lalu apa yang terjadi setelah itu? Keran itu memang benar-benar mengalirkan penerbangan dalam hidup saya! Sampai dengan saat ini saya sudah melakukan penerbangan sebanyak 30 kali!


Inti dari pengalaman itu adalah saya hanya mempercayai apa yang saya yakini dan apa yang saya yakini itu bisa terjadi dalam hidup saya! Begitupun dengan penerbangan internasional ini. Keran pertama sudah terbuka dan saya percaya penerbangan yang lainnya akan mengalir segera J Sekarang saya di Selandia Baru sampai tanggal 28 Agustus 2012 dan saya mau menikmatinya. Salam Harapan!

"Sesungguhnya masa depanmu sungguh ada dan harapanmu tidak pernah sia-sia"